Bettilt Betting Tips for Live Wagers

When engaging in live wagers on platforms such as bettilt, it is essential to integrate receipt checking and tax optimization strategies to maximize your returns. These practices not only help you keep track of your betting activity but also ensure compliance with financial regulations. Verification processes play a crucial role in maintaining accurate records for tax purposes and help identify any discrepancies early. Adopting a disciplined approach towards these elements is fundamental for any serious bettor.

Tax optimization in live betting involves understanding how your betting receipts affect your overall tax liabilities. Keeping meticulous records of your wagers, including wins and losses, allows you to claim any eligible deductions and reduces the risk of mistakes during tax filing. Verification of receipts ensures that all bets placed are accounted for, preventing issues with authorities or discrepancies in reporting. Being proactive with your financial documentation can lead to significant benefits, particularly in jurisdictions with complex tax codes.

Practical methods for receipt checking include using digital tools and apps designed for tracking betting activity in real time. These tools facilitate efficient verification and help in categorizing your transactions for better tax management. For detailed guidance on the latest tax legislation that impacts betting activities, visit the IRS Gambling Income and Losses page, which provides authoritative information on how to handle gambling income for tax purposes. Additionally, staying informed about financial compliance updates through reputable media sources such as Reuters Finance Tax News ensures you remain compliant and optimize your betting strategy effectively.

Bettilt Review: Accessibility and User Experience for Newcomers

When exploring online platforms like Bettilt, newcomers often prioritize features that enhance receipt checking, tax optimization, and verification processes. These aspects are crucial not only for maintaining transparency but also for ensuring compliance with tax regulations and financial laws. Understanding how Bettilt supports these functions can help users navigate the platform confidently, especially when managing their betting receipts and related documentation for tax purposes.

Receipt verification and tax optimization are essential components in any online betting service. Users must verify the accuracy of their transaction records to claim potential tax deductions or avoid discrepancies during audits. Bettilt’s system facilitates this by providing clear documentation and timely transaction histories. Such measures allow bettors to track their financial activities efficiently and optimize their tax filings by accurately reporting winnings and losses in accordance with local regulations.

Practical methods for checking receipts and optimizing taxes on platforms similar to Bettilt include using official verification tools and staying informed through reputable sources. Users should consult authoritative websites like the IRS for U.S. tax legislation or the equivalent tax authority in their jurisdiction. Additionally, keeping up with financial news through outlets such as Reuters Finance can provide timely updates on changes in tax policy or compliance requirements. For users particularly interested in the Indian market, the platform bettilt india offers tailored services to meet regional financial standards and provide smooth user experiences.

Zakat Akhir Tahun

Zakat Akhir Tahun

ZAKAT AKHIR TAHUN

ZAKAT AKHIR TAHUN

Pembayaran zakat maal dapat dilakukan pada akhir tahun dengan tujuan membersihkan harta dari segala hal yang tidak baik. Zakat ini terdiri dari zakat perdagangan, zakat emas, zakat profesi, tabungan dan lainnya.

Arti Zakat Akhir Tahun

Zakat akhir tahun adalah pembayaran zakat maal atau harta yang dilakukan pada penghujung tahun. Hal ini mengacu pada kewajiban seorang muzaki untuk memenuhi haul zakat yakni kepemilikan harta selama satu tahun.

Jika mengacu pada hukum syariat, haul zakat yang berlaku mengacu pada perhitungan kalender hijriah, namun saat ini di era modern kebanyakan masyarakat menggunakan kalender masehi dalam perhitungan kalender.

Meskipun demikian, pembayaran zakat mal tidak selamanya dilakukan di penghujung tahun dan bisa dilakukan kapan saja. Artinya, zakat ini bisa dilakukan kapan saja tergantung pemenuhan haulnya itu sendiri. Jika haul atas hartanya jatuh pada bulan Ramadhan, seorang muzaki wajib mengeluarkan zakatnya pada bulan tersebut.

Jenis Zakat Mal yang Bisa Dibayar Pada Penghujung Tahun

Berikut adalah beberapa jenis zakat mal yang dapat dibayar pada penghujung tahun.

  1. Zakat Pendapatan

Zakat pendapatan adalah jenis zakat yang wajib dikeluarkan oleh seorang Muslim atas pendapataannya yang terima berdasarkan ilmu, keahlian, atau tenaganya. Perintah mengeluarkan harta penghasilan sendiri telah tertulis dalam QS. Al-Baqarah ayat 267.

Berdasarkan fatwa MUI No. 3 tahun 2003 nishab zakat penghasilan adalah 85 gram emas. Jika mengacu pada harga emas  per Desember yakni Rp1.107.000 per gram (logammulia.com), maka nisab zakat pendapatan adalah Rp94.095.000 artinya seseorang dengan pendapatan minimal Rp7.841.250 per bulan telah mencapai nishab zakat.

  1. Zakat Perdagangan

Zakat perdagangan adalah kewajiban zakat atas aset perdagangan atau niaga. Nishabnya adalah 85 gram emas dan waktu pembayarannya adalah setelah tutup buku di akhir tahun.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, disebutkan bahwa setiap Muslim dianjurkan untuk mengeluarkan zakat dari harta yang diniatkan untuk dagang atau niaga.

“Rasulullah SAW memerintahkan kami agar mengeluarkan zakat dari semua yang kami persiapkan untuk berdagang.” (HR. Abu Daud).

  1. Zakat Emas atau Perak

Emas dan perak biasa digunakan untuk perhiasan. Namun, bisa juga dipergunakan untuk investasi. Jika emas dan perak yang dimiliki sudah mencapai nisab dan haul, maka wajib dikeluarkan zakat akhir tahunnya. Untuk emas, nisabnya adalah minimal telah mencapai 85 gram emas murni. Sementara untuk perak, nisabnya adalah 595 gram. Keduanya memiliki kadar zakar sebanyak 2,5%.

Cara menghitung zakat emas atau perak:

Nilai harga emas/perak x 2,5%

  1. Zakat Tabungan

Zakat tabungan adalah zakat yang wajib dikeluarkan dari tabungan yang dimiliki setelah jumlahnya mencapai kriteria zakat selama satu tahun. Adapun tabungan yang dapat dizakati antara lain simpanan bank, tabungan pensiun, dan brankas.

  1. Zakat Perusahaan

Zakat perusahaan adalah zakat yang wajib ditunaikan oleh perusahaan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Menurut Yusuf Qardhawi zakat perusahaan disamakan dengan zakat untuk harta perniagaan atau perdagangan. Harta atau benda perdagangan adalah sesuat yang dibeli atau dijual untuk memperoleh keuntungan.

Nishab zakat perusahaan adalah 85 gram emas dan kadar zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5% dari aset perusahaan.

Tempat Bayar Zakat Akhir Tahun

Setelah memahami zakat akhir tahun dan jenis harta apa saja yang bisa dizakati pada penghujung tahun, saatnya kamu menentukan dimana tempat pembayaran zakat tersebut.

Umumnya, pembayaran zakat dilakukan kepada Amil Zakat atau Lembaga Amil Zakat yang secara khusus mengelola dan menyalurkan dana zakat.

Pembayaran zakat saat ini dapat dilakukan secara online melalui Lembaga atau Badan Amil Zakat. Salah satu rekomendasi tempat bayar zakat online adalah Baitul Maal Tabungan Dhuafa yang siap menerima dan menyalurkan zakat.

Bayar zakat akhir tahun melalui Baitul Maal Tabungan Dhuafa dengan Penyaluran zakat tentunya dilakukan kepada golongan orang yang berhak menerima zakat tersebut. Nah, saat ini kamu dapat membayar zakat akhir tahun baik dengan perhitungan Hijriyah atau pun masehi di Baitul Maal Tabungan Dhuafa.

Tunaikan zakat penghasilan Anda dengan cara transfer via rekening:

BSI:  ⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣⁣7213609108

BRI: 0105 01 017144 530

Kenapa Bulan Safar Dianggap Bulan Sial oleh Arab Jahiliah?

Umat Islam mengenal bulan Safar sebagai bulan kedua dalam kalender Hijriyah Bulan Safar sendiri berada di antara bulan Muharam dan juga Rabiul Awal. Melansir laman resmi MUI, Safar sering diartikan sebagai kosong karena di bulan ini, orang Arab pada zaman dahulu pergi untuk berperang yang menyebabkan kekosongan di kota Mekkah.

Ada juga yang mengatakan jika Safar diambil dari nama penyakit seperti yang juga diyakini orang Arab jahiliyah di masa lampau yakni penyakit safar yang ada di perut sehingga akan membuat seseorang menjadi sakit karena terdapat ulat besar yang sangat berbahaya. Sadar juga dinyatakan sebagai jenis angin berhawa panas yang terjadi pada perut serta banyak pengartian lainnya dari kata Safar tersebut.

“Dalam sejarahnya orang Arab jahiliah beranggapan terdapat kesialan pada bulan Safar. Keyakinan lainnya, yaitu tidak boleh melakukan pernikahan, khitan, atau semisalnya pada bulan Safar,” tulis buku Mengenal Nama Bulan dalam Kalender Hijriyah.

Pendapat yang menyatakan jika bulan Safar adalah bulan sial dan tidak baik untuk mengadakan sebuah acara penting merupakan khufarat atau tahayul dan mitos. Khurafat adalah bentuk penyimpangan dalam akidah Islam. Beberapa keyakinan dalam hal ini meliputi beberapa larangan seperti melakukan pernikahan, khitan dan berbagai perbuatan lain yang apabila dilakukan akan menimbulkan musibah atau kesialan.

Hingga akhirnya Islam datang dan Rasulullah SAW diutus oleh Allah SWT untuk mengabarkan kebenaran bagi orang-orang Arab jahiliah tersebut. Dalam suatu hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah menjelaskan mengenai kepercayaan bulan Safar yang membawa sial tersebut, ia bersabda:

لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ

Artinya: “Tidak ada penularan penyakit (dengan sendirinya), tidak ada thiyarah, tidak ada kesialan karena burung hantu, tidak ada kesialan pada bulan Safar,” (HR Bukhari no. 5437, Muslim no. 2220, Abu Daud no. 3911, dan Ahmad no II/327).

Akan tetapi pada kenyataannya, masih banyak umat muslim yang percaya jika bulan Safar adalah bulan bencana yang bisa memberikan banyak keburukan meskipun sudah dibantah dengan tegas oleh Rasulullah SAW. Sebuah keyakinan inilah yang dapat menjerumuskan seseorang pada jurang kemusyrikan.

Sial, naas ataupun bala bisa terjadi kapan saja dan tidak hanya sebatas bulan Safar saja. Allah SWT menegaskan, “Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51 ).

Tidak terdapat amalan istimewa yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Safar dan amalan yang ada dalam bulan Safar juga sama dengan bulan lainnya. Kepercayaan tentang keburukan pada sebuah hari, bulan atau pun tempat hanyalah kepercayaan jahiliyyah sebelum datangnya Islam.

Peristiwa Di Bulan Safar Yang Jarang Diketahui Orang

Umat Islam mengenal bulan Safar sebagai bulan kedua dalam kalender Hijriyah Bulan Safar sendiri berada di antara bulan Muharam dan juga Rabiul Awal. Melansir laman resmi MUI, Safar sering diartikan sebagai kosong karena di bulan ini, orang Arab pada zaman dahulu pergi untuk berperang yang menyebabkan kekosongan di kota Mekkah.

Ketika memasuki bulan Safar seringkali dikaitkan dengan beragam mitos yang sudah ada sejak masa-masa kesialan (Jahilliyah). Mitos ini berkembang bahkan disebut juga sebagai bulan yang penuh marabahaya. Asumsi negatif tersebut gencar berkembang bahkan hingga pada masa Rasulullah SAW.

Namun Rasulullah SAW menampik asumsi tersebut, bahkan ia menyelenggarakan beberapa acara penting seperti pernikahan pada bulan Safar. Hal ini dilakukannya supaya masyarakat tidak terus menganggap bulan Safar adalah bulan kesialan.

Selain karena pada bulan Safar Nabi Muhammad SAW melakukan Hijrah untuk pertama kalinya, ada banyak lagi peristiwa bersejarah penting lainnya yang perlu kita ketahui bersama.

Banyak peristiwa penting yang bisa memberikan pelajaran penting bagi seluruh umat Islam untuk mengamalkan banyak kebaikan untuk kemajuan dakwah Islam.

  1. Perang Al-Abwa, Perang Pertama dalam Islam

Dalam terminologi sejarah keislaman, terdapat dua macam jenis perang, yakni Ghazwah yang artinya peperangan yang dipimpin oleh Rasulullah SAW sendiri, dan Sariyah yang artinya peperangan yang dipimpin oleh para sahabat.

Pada tahun pertama hijriah Bulan Safar, Rasulullah SAW. ikut andil dalam perang Abwa. Secara langsung, Rasulullah SAW turut terjun dalam medan perang yang kadangkala disebut juga sebagai perang Buwath itu.

  1. Perang Khaibar

Dikutip dari buku Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali Al-Hasani An Nadwi, sekembalinya Rasulullah SAW dari Hudaibiyah pada bulan Dzulhijjah, beliau tinggal di Madinah selama beberapa hari pada bulan Muharram, lalu sisa hari dari bulan Muharram ke Bulan Safar itulah Rasulullah SAW pergi menuju Khaibar. Dengan pasukannya yang berjumlah 1.400 orang disertai 200 pasukan berkuda itu, Rasulullah SAW mampu menaklukan Khaibar yang meliputi benteng-benteng terkenal bernama Naim, Qumush, Syiq, dan Nithah. Perang tersebut terjadi pada tahun ketujuh hijriah di Bulan Safar.

  1. Ekspedisi Qutbah bin Amir bin Hadidah

Qutbah bin Amir adalah seorang dari Kaum Ansor. Pada Bulan Safar di tahun 9 hijriah, Rasulullah SAW mengutus Qutbah bin Amir menuju daerah yang dihuni Suku Khas’am, dekat dengan wilayah Bisah dekat Turabah. Qutbah pergi dengan membawa 20 tentara, dan memerintahkannya untuk menyerang Suku Khas’am.

  1. Perang Dzu’Amr

Disitir dari keterangan Ibnu Ishaq, sekembalinya Rasulullah SAW dari perang Sawiq, nabi tinggal sementara di Madinah pada bulan Dzulhijjah dan Muharram dengan umatnya. Lalu Rasulullah SAW bersama 450 orang sahabatnya kemudian menyambangi wilayah Najid untuk memerangi Kabilah Ghathafan. Perang tersebut dikenal sebagai perang Dzu’Amr. Lalu Rasulullah SAW berdiam di wilayah Najid selama satu bulan Safar penuh.

  1. Datangnya utusan dari Bani Udzra menghadap Rasulullah SAW

Dikutip dari Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali Al-Hasani An Nadwi, pada tahun ke – 9 Hijriah, setelah penaklukan Makkah dan sekembalinya Rasulullah dari perang Tabuk, masuklah momen bersejarah di mana Rasulullah SAW menyurati raja-raja dan pemimpin-pemimpin di semenanjung Arab untuk masuk dalam naungan Islam. Selepas itu banyak kabilah-kabilah Arab mengirim utusan menghadap Rasulullah dan menyatakan diri masuk Islam. Salah satu di antaranya adalah Bani Udzra.

Pada bulan Safar, utusan dari Bani Udzra yang berjumlah 12 orang datang menghadap Rasulullah SAW. Rasulullah lalu menyambutnya dengan memberi kabar gembira akan kemenangan Syam. Tidak lupa Rasulullah melarang Bani Udzrah untuk meminta pertolongan dari dukun, dan melarang mereka menyembelih hewan seperti yang biasa mereka lakukan selain untuk kepentingan qurban.

  1. Islamnya Amr bin Ash

Amr bin Ash dikenal sebagai salah satu dari pemuka Suku Quraisy. Ia adalah seorang yang memiliki kelihaian dalam bertempur, bahkan dalam suatu pertempuran ia dapat menaklukkan Mesir dari cengkeraman Imperium Romawi dan Persia, sampai para sejarawan menjulukinya sebagai “Pembebas Mesir”.

Pada Bulan Safar pula inilah Amr bin Ash menjemput hidayah Allah SWT dan mulai menjadi sahabat setia Rasulullah SAW yang gagah berani. Menurut Ibnu Ishaq, keislaman Amr bin Ash dipengaruhi oleh Raja Negus, seorang penguasa dari wilayah Habasyah, Ethiopia. Amr bin Ash memilih Islam sebagai pegangan dan jalan hidupnya tepat pada tahun ke 8 Hijriah.

  1. Hijrah pertama Rasulullah SAW

Salah satu momen bersejarah dalam khazanah Islam adalah hijrahnya Rasulullah SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa hijrah pertama tersebut terjadi pada bulan Safar. Rasulullah berangkat dari Makkah pada Bulan Safar, dan sampai di Madinah pada bulan Rabiul Awwal.

Dalam buku Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali Al-Hasani An Nadwi, peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dapat diambil pelajarannya sebagai simpulan bahwa dakwah dan akidah dapat melepaskan seseorang dari setiap yang dicintainya, dan sebaliknya, segala sesuatu tidak akan dapat melepaskan dakwah dan akidah dari manusia.

  1. Pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah

Sebagaimana yang kita ketahui, Sayyidah Khadijah binti Khuwailid, seorang bangsawan Suku Quraisy yang terpandang, cerdas, dan berakhlak mulia itu merupakan istri pertama Rasulullah SAW. Menurut Ibnu Ishak, Rasulullah SAW menikahi perempuan yang disebut juga “Ummul Mukminin” itu tepat pada bulan Safar, yakni ketika Rasulullah SAW berusia genap 26 tahun.

  1. Pernikahan Ali bin Abi Thalib RA dengan Sayyidah Fatimah

Dikutip dari keterangan Ibnu Katsir, bulan Safar rupanya bukan saja bulan pernikahan Rasulullah SAW dengan Sayyidah Khadijah RA., melainkan juga bulan pernikahan putri Rasulullah, Sayyidah Fatimah RA dengan seorang sahabat yang pandai, Ali bin Abi Thalib RA. Keduanya menikah tepat pada bulan Safar di tahun ke-2 Hijriah.

  1. Penaklukan Romawi oleh Usamah bin Zaid

Romawi adalah satu dari beberapa imperium kekaisaran dengan kekuatan militer dan politik yang besar pada zaman Rasulullah SAW. Keberadaannya yang kuat seringkali menjadi halangan Rasul dan sahabat dalam berdakwah. Pada bulan Safar tahun ke – 11 Hijriah, Rasulullah SAW memerintahkan pasukan umat Islam untuk bersiap menyerang Romawi. Rasulullah menunjuk Usamah bin Zaid sebagai komando perang.

Dikutip dari buku Sirah Nabawiyyah karya Abul Hasan Ali Al-Hasani An Nadwi, penunjukan Usamah bin Zaid mengundang tanda tanya di tengah umat. Sebab, di antara pasukan yang akan berangkat menuju Romawi itu terdapat pembesar-pembesar Kaum Anshar dan Kaum Muhajirin.

Bahkan salah satu di antaranya ialah Umar bin Khattab RA. Dengan kondisi sakit yang parah, Rasulullah SAW lantas datang ke hadapan orang-orang yang meragukan Usamah bin Zaid, dengan meyangga kepala dan duduk di mimbar, Rasulullah SAW lalu bersabda:

“Wahai manusia! Laksanakanlah (perintah) pengiriman Usamah. Demi Allah jika kalian berkata (meragukan) tentang kepemimpinan Usamah, maka kalian telah berkata (meragukan) tentang kepemimpinan ayahnya sebelumnya. Sesungguhnya ia pantas menjadi pemimpin, sebagaimana ayahnya juga pantas untuk menjadi pemimpin.”

Rasulullah SAW kemudian turun dari mimbar. Dan bala tentara pasukan yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid pun bergegas mempersiapkan keperluan perang, lalu berangkatlah sampai tiba di hari pertempuran, yang kemudian misi tersebut diteruskan oleh Abu Bakar RA.

Pentingnya Ilmu

ILMU merupakan perkara yang sangat diperlukan oleh manusia khususnya umat Islam untuk mencapai kebaikan dan kesejahteraan di dunia maupun di akhirat.

“Ilmu itu adalah anugerah terbesar setelah kenabian”, itulah kalimat hikmah yang pernah disampaikan Sufyan ibn Uyainah seperti yang termaktub dalam kitab Irsyadussari karya KH Hasyim Asy’ari.
Sedangkan, Ka’bul Akhbar berkata, seandainya pahala majelis ta’lim itu ditampakkan, maka orang-orang akan berperang berebut untuk datang ke majelis ta’lim. Orang-orang yang berkuasa akan meninggalkan kekuasaannya, orang-orang yang berdagang akan meninggalkan dagangannya. Begitu besar dan mulianya ilmu, ulama, muallim,dan majelis ta’lim itu. “Maka dari itu, Kh Hasyim mewanti-wanti untuk menata niat mencari ilmu dengan lurus karena Allah SWT agar pahala ilmu tidak batal dan amal tidak terhapus,”
Adapun contoh niat belajar dan mengajarkan ilmu yang benar adalah apa yang dipaparkan al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith mengutip dari al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad. Niat ini hendaknya dibaca setiap kali belajar atau mengajar. Demikian penjelasannya:
جاء في تثبيت الفؤاد عن الحبيب عبد الله بن علوي الحداد رضي الله عنه ونفعنا به فيما ينويه الداعي إلى الله ويقال عند الدرس قال ينوي بقلبه التعلم والتعليم والمذاكرة والتذكير والنفع والانتفاع والاستفادة والإفادة والحث على التمسك بكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم والدعاء إلى الهدى والدلالة على الخير ابتغاء وجهه ومرضاته وقربه وثوابه سبحانه وتعالى
“Dalam kitab Tatsbit al-Fuad, dari al-Habib Abdulllah bin Alwi al-Haddad tentang niatnya orang yang mengajak ke jalan Allah, dan niat ini dibaca saat dars (belajar/ mengajar), beliau berkata: ‘Hendaknya meniatkan dalam hati untuk belajar dan mengajarkan, saling berdiskusi dan mengingatkan, memberi manfaat dan mengambil manfaat, mengambil faedah dan memberi faedah, mendorong untuk berpegangan dengan kitab Allah dan sunah Rasul-Nya, mengajak kepada petunjuk, menunjukan kepada kebaikan, karena mencari ridha-Nya, kedekatan dengan-Nya dan pahala-Nya” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal. 670).
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa santri lulusan pondok pesantren yang kemudian menjadi seorang mubaligh atau kiai, janganlah menjadi seorang hakimul ummah yang hanya menghukumi halal atau haramTetapi jadilah mursyidul ummah yang dapat memahami dan membimbing umatnya ke jalan yang benar, damai, serta tanpa kekerasan.

Pengorbanan Orang Tua

Orang tua rela melakukan apa saja untuk anaknya. Mulai dari merawat, mendidik, dan membesarkan anak sedari kecil hingga si anak beranjak dewasa. Tidak peduli bagaimana kondisi mereka, orang tua akan selalu berusaha memberikan yang terbaik kepada sang buah hati.

Bahkan mereka telah mengorbankan banyak keinginan mereka sendiri, demi kebaikan anak. Namun yang sering terjadi, ketika anak mulai beranjak dewasa, anak justru melupakan pengorbanan-pengorbanan orang tua mereka selama ini. Mereka tidak menghargai orang tua dengan sepantasnya.

Seperti beberapa hal berikut ini yang menunjukkan bukti pengorbanan orang tua untuk anaknya, tapi malah sering dilupakan seiring sang anak beranjak dewasa. Simak ulasannya.

1. Orang tua memastikan anak dalam kondisi terbaik, bahkan ketika mereka sendiri dalam keadaan sulit.

Bagi orang tua, anak-anak mereka adalah segalanya dan mereka akan melakukan apa saja untuk membuat buah hatinya tersenyum. Alih-alih membeli barang-barang bagus untuk dirinya sendiri, orang tua justru akan mendahulukan keperluan anak-anaknya agar mereka bahagia.

2. Orang tua mengorbankan waktu tidurnya untuk masa depan anak.

Ketika anak masih bayi, pasti orang tua akan banyak kehilangan waktu tidur. Biasanya, antara ayah dan ibu akan berbagi tugas ketika anak rewel di malam hari. Meski berat, hal itu bukan jadi masalah bagi mereka, selama anaknya dapat tidur dengan nyaman.

Begitu juga ketika si anak terus bertumbuh, orang tua tetap mengorbankan waktu istirahat untuk membuat masa depan anak-anaknya cerah. Mereka bekerja siang dan malam tanpa lelah.

3. Orang tua meninggalkan hobi dan cita-citanya demi sang buah hati.

Menjadi orang tua seperti halnya pekerjaan penuh waktu. Dari bayi lahir, merawatnya, menghabiskan waktu berkualitas bersama, mengajarkan banyak hal, hingga mengawasi anak. Itu semua adalah pekerjaan yang seolah tidak pernah berakhir. Karena itulah, banyak orang tua yang akhirnya meninggalkan hobi dan cita-citanya untuk sang buah hati.

4. Orang tua meninggalkan segalanya demi merawat si kecil yang sedang sakit.

Bagi orang tua, tak ada yang lebih penting selain kesehatan dan keselamatan anaknya. Itu adalah prioritas utama. Maka dari itu, ketika si anak sakit, orang tua pun ikut uring-uringan seolah ikut mengalami sakit yang mereka rasakan. Orang tua rela meninggalkan semua agenda dan menghabiskan waktu berhari-hari untuk merawat anaknya.

5. Orang tua bekerja keras mencari nafkah dan menabung untuk masa depan anak.

Ketika kita tumbuh dewasa dan mulai bekerja sendiri, kita menyadari betapa sulitnya mendapatkan uang. Itulah yang dirasakan orang tua kita selama ini. Orang tua bekerja keras untuk mencari nafkah bagi seluruh keluarga. Alih-alih membelanjakannya untuk diri mereka sendiri, hasil yang mereka dapatkan itu justru ditabung untuk mempersiapkan masa depan anak, terutama pendidikannya.

Manusi Makhluk Bertujuan

Seseorang sangat layak bertanya pada dirinya senderi apakah kehadirannya di dunia ini memiliki tujuan tidak. Jika ya, lalu apakah tujuan keberadaannya. Hal ini sangatlah penting karena memiliki tujuan dan tak memiliki tujuanmelekat dengan implikasi dan konsekuensinya masing-masing. Jika kehadiran manusia di dunia tidak disertai tujuan-tujuan tertentu maka setiap manusia lahir bebas dari tanggung jawab; artinya manusia bebas dari norma apapun yang mengikutinya. Manusia tak bertujuan bebas melakukan apapun, bergerak kemanapun mengikuti seluruh kehendak dan hasrat yang timbul dalam dirinya.

Tujuan utama diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada Allah, mendirikan khilafah. Sebagaimana Firman Allah yang terdapat pada Qur’an surat Adz-Zariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs. Adz-Zariyat: 56)

Dan Allah juga berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 30:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (Qs. Al Baqarah: 30)

Taat melaksanakan yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang ia larangan merupakan hal yang utama. Namun menjaga sikap kita dihadapan Allah dan umat manusia juga tak kalah penting. Karenaya, Mari sama sama kita menjalankan ketaatan kepada Allah dan menjauhi apa yang ia larang.

Manusia Makhluk Tak Mandiri

Manusia Makhluk Tak Mandiri

Manusia adalah makhluk jasadi yang tak lepas dari sifat-sifat benda-benda. Maka manusia tak dapat dilepaskan dari karakteristik integral alam semesta. Sehingga perenungan manusia yang jujur baik terhadap dirinya maupun alam sekitarnya merupakanjalan mengenal kebenaran Absolut, Tempat bergantung , yang menentukan nasib semua benda di Alam raya ini, Yakni Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah SWT berfirman:

أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ  ٣٥ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ  ٣٦

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah menka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)” [Thur (52): 35-36)

Pertanyaan sederhana ini dengan pasti mematahkan keyakinan-keyakinan kaum atheis dan materialis yang menolak hadimya Sang Pencipta. Kehadiran manusia dan alam semesta tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, ia memerlukan proses pewujudan. Manusia tak mampu mencipta dirinya sendiri, apalagi benda-benda mati yang tidak memiliki kesadaran dan kehendak. Sangat jelas bahwa pengingkaran terhadap eksistensi Sang Pencipta adalah sesuatu yang tidak rasional dan merupakan penyimpangan.

Secara tegas Al-Qur’an mengatakan bahwa proses perkembangan manusia dari sperma menjadi makhluk lengkap dan sempurna adalah karya “tangan” Sang Pencipta, manusia tak pernah memiliki kontribusi apapun dalam fase-fase perkembangannya. Surah Al-Mu’minuun: ayat 12-14 menyatakan:

وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ  ١٢ ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةٗ فِي قَرَارٖ مَّكِينٖ  ١٣ ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ  ١٤

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”. (Al Mukminun (23): 12-14)

Kesadaran diri bahwa manusia makhluk yang sangat rapuh dan bergantung sangat menguntungkan bagi dirinya. Karena ia akantahu keterbatasannya, dan tentu saja kepada siapa mencari sandaran-sandaran yang mampu menopang eksistensi dirinya. Manusia yang sadar diri tidak akan bersikap sombong dan berlaku melampaui batas Kesadaran ini musti mengantar pada sandaran yang paling baik dan kokoh yakni sumber asal usul eksistensi.

7 Manfaat Rajin Membaca Alquran

3. Membaca Alquran kelak akan mendapatkan syafa’at di akhirat

Salah satu amalan yang bisa memberikan syafa’at atau pertolongan di akhirat nanti adalah amalan membaca Alquran.

Rasulullah SAW bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafa’at kepada orang yang membacanya.” (HR. Muslim)