Manusia adalah makhluk jasadi yang tak lepas dari sifat-sifat benda-benda. Maka manusia tak dapat dilepaskan dari karakteristik integral alam semesta. Sehingga perenungan manusia yang jujur baik terhadap dirinya maupun alam sekitarnya merupakanjalan mengenal kebenaran Absolut, Tempat bergantung , yang menentukan nasib semua benda di Alam raya ini, Yakni Allah Subhanahu wa ta’ala. Allah SWT berfirman:
أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ ٣٥ أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ ٣٦
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah menka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)” [Thur (52): 35-36)
Pertanyaan sederhana ini dengan pasti mematahkan keyakinan-keyakinan kaum atheis dan materialis yang menolak hadimya Sang Pencipta. Kehadiran manusia dan alam semesta tidak mungkin terjadi dengan sendirinya, ia memerlukan proses pewujudan. Manusia tak mampu mencipta dirinya sendiri, apalagi benda-benda mati yang tidak memiliki kesadaran dan kehendak. Sangat jelas bahwa pengingkaran terhadap eksistensi Sang Pencipta adalah sesuatu yang tidak rasional dan merupakan penyimpangan.
Secara tegas Al-Qur’an mengatakan bahwa proses perkembangan manusia dari sperma menjadi makhluk lengkap dan sempurna adalah karya “tangan” Sang Pencipta, manusia tak pernah memiliki kontribusi apapun dalam fase-fase perkembangannya. Surah Al-Mu’minuun: ayat 12-14 menyatakan:
وَلَقَدۡ خَلَقۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن طِينٖ ١٢ ثُمَّ جَعَلۡنَٰهُ نُطۡفَةٗ فِي قَرَارٖ مَّكِينٖ ١٣ ثُمَّ خَلَقۡنَا ٱلنُّطۡفَةَ عَلَقَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡعَلَقَةَ مُضۡغَةٗ فَخَلَقۡنَا ٱلۡمُضۡغَةَ عِظَٰمٗا فَكَسَوۡنَا ٱلۡعِظَٰمَ لَحۡمٗا ثُمَّ أَنشَأۡنَٰهُ خَلۡقًا ءَاخَرَۚ فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحۡسَنُ ٱلۡخَٰلِقِينَ ١٤
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik”. (Al Mukminun (23): 12-14)
Kesadaran diri bahwa manusia makhluk yang sangat rapuh dan bergantung sangat menguntungkan bagi dirinya. Karena ia akantahu keterbatasannya, dan tentu saja kepada siapa mencari sandaran-sandaran yang mampu menopang eksistensi dirinya. Manusia yang sadar diri tidak akan bersikap sombong dan berlaku melampaui batas Kesadaran ini musti mengantar pada sandaran yang paling baik dan kokoh yakni sumber asal usul eksistensi.
