Amal Ibadah Kita Diangkat Untuk Dilaporkan di Hari Senin dan Kamis

Sebenarnya, anjuran untuk beramal baik tidak dibatasi pada hari, bulan atau tahun tertentu yang dianggap istimewa. Di semua waktu, kita selalu dianjurkan untuk terus beramal baik, tanpa harus mengkalkulasi besarnya pahala dari setiap amal yang kita lakukan. Hanya saja, ada hari, bulan atau tahun tertentu, pahala amalan shalih kita, secara kuantitas akan dilipatgandakan. Semisal hari Senin dan Kamis. Di dua hari ini, kita dianjurkan memperbanyak amal baik, karena setiap hari Senin dan Kamis pintu-pintu surga akan dibuka dan dosa-dosa orang mukmin akan diampuni kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan.

تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ اْلاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاء. رواه مسلم

“Seluruh amal manusia dilaoprkan ke hadapan Allah dalam setiap pekan (Jumu’ah) dua kali, yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang antara dia dan saudaranya sedang berrmusuhan.” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW. bersabda:

“تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا. رواه مسلم

“Pintu-pintu surga dibuka setiap hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu akan diampuni dosa-dosanya, kecuali orang yang antara dia dan saudaranya sedang bermusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengam-punan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim)

Selain akan diampuni dosa-dosa, setiap hari Senin dan Kamis, seluruh amal (perbuatan) manusia selama satu pekan akan diangkat untuk dilaporkan ke hadapan Allah SWT. Maka pada saat amal itu dilaporkan, sebaiknya kita perbanyak amal baik.

Kebaikan yang tersebar di permukaan bumi akan bernilai ibadah tergantung dari niatnya. Mencari keridhaan Allah Ta’ala merupakan sesuatu yang telah digariskan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam (SAW).

Dalam sebuah hadits disebutkan, Rasulullah SAW melaksanakan dan menganjurkan puasa sunah di dua hari tersebut.

Puasa Senin Kamis merupakan ibadah yang Rasulullah SAW anjurkan untuk dilaksanakan. Beliau juga rutin mengamalkan ibadah tersebut. Sebagaimana yang disebutkan dalam suatu hadits,

Rasulullah SAW. menyampaikan alasan puasanya pada kedua kedua hari tersebut dengan sabdanya:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ. رواه الترمذي

“Amal-amal manusia dilaporkan pada setip hari Senin dan Kamis. Maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. al-Tirmidzi).

Bazar Produk Hasil Karya Para santri

Bazar Produk Hasil Karya Para santri

Pondok Pesantren At-Taqwa mengadakan kegiatan bazar di area pondok. Kegiatan bazar dilakukan untuk menampilkan produk-produk karya tangan santri, dari program lifeskill berupa olahan dan hasil panen, dari kegiatan ini diharapkan para santri dapat belajar berdagang dan bersosialisasi dengan konsumen dengan baik.

Acara yang dihadiri oleh Pengasuh pondok Ustadz Muhammad Yusuf, S.pd.i, Para santri putra dan putri Pondok Pesantren At-Taqwa, Para orangtua santri, ketua RT setempat dan para Tokoh masyarakat setempat.

Acara tersebut diikuti dengan slaturahmi antara orangtua santri beserta para pengurus di Ponodok Pesantren, acara kajian, drama bahasa arab dan inggris, story telling yang ditampilkan oleh santri putri sedangkan drama musikal dan rebana ditampilkan oleh santri putra sekaligus pemberian hadiah untuk pemenang lomba-lomba peringatan hari santri.

Pengurus Pondok mengharapkan kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi para santri yang memiliki minat dan bakat dibidang seni untuk dikembangkan, sehingga mampu berprestasi di tingkat yang lebih tinggi, tidak hanya dilingkup pondok pesantren saja tetapi juga berpartisipasi dalam kegiatan diluar lingkup pondok pesantren. Dia juga mengharapkan supaya jangan pantang menyerah dan terus mencoba kesempatan di luar sana.

 

Keutamaan Bulan Muharram

Umat Islam saat ini sudah memasuki bulan Muharram, yakni bulan pertama dari tahun Hijriyah. Oleh sebab itu, bulan ini menjadi salah satu bulan yang istimewa di antara bulan-bulan yang lain.
Bahkan Rasulullah SAW pun sangat menganjurkan untuk mengamalkan ibadah puasa di bulan Muharram. Seperti puasa Asyura dan puasa Tasu’a.

شَهْرُ اللهِ المُحَرَّمُ ، وَأفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الفَرِيضَةِ

“Sebaik-baik puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan sebaik-baik sholat setelah sholat fardhu adalah sholat malam,” (HR. Muslim).

Keutamaan Bulan Muharram
1. Bulan yang Suci

Beberapa ulama sepakat bahwa bulan Muharram termasuk salah satu bulan suci dalam Islam. Hal ini termaktub dalam firman Allah yang menyebutkan empat bulan suci dalam Islam yaitu, QS At Taubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.” (QS. At Taubah: 36).

Pada zaman dahulu, masyarakat Arab dilarang untuk berperang karena sucinya keempat bulan tersebut. Sebagaimana dalam sebuah hadits dari Abu Bakrah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya, zaman berputar sebagaimana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada 12 belas bulan. Di antaranya 4 empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan, yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadil Tsani (Jumadil Akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Bulan Allah

Bulan Muharram juga disebut dengan syahrullah al Asham yang berarti bulan Allah yang sunyi. Keistimewaan ini diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA, ia menceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

اَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Artinya: “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah pada bulan Allah yaitu, Muharram.” (HR. Muslim).

3. Bulan yang Dimuliakan oleh Umat Beragama

Salah satu hari di bulan Muharram yang sangat dimuliakan oleh umat beragama, yaitu hari Asyura. Islam melakukan penghormatan berupa puasa sunnah pada hari itu atas kemenangan yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Musa.

Hal ini termaktub dalam hadits dari Ibnu Abbas, ia berkata:

“Ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa di hari Asyura. Beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Hari yang baik, hari di mana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, sehingga Musa pun berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah. Akhirnya, Nabi Muhammad SAW. bersabda, ‘Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa daripada kalian.’ Kemudian, Nabi Muhammad SAW berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.” (HR. Muslim).

4. Bulan untuk Mematangkan Langkah Terbaik

Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang istimewa dalam Islam sebagai bulan pertama dalam hitungan kalendar Qamariyah.

Mengutip dari buku Dahsyatnya Puasa Sunah karya H. Amirulloh Syarbini, Hj. Lis Nur’aeni Afgani, dan Ruang Kata, saat itu Rasulullah SAW pertama kali hijrah ke Madinah di bulan Muharram. Sehingga bulan ini dijadikan sebagai awal penanggalan tahun Hijriyah dalam Islam.

Sehingga sudah sepatutnya bulan ini menjadi momentum yang tepat bagi umat Islam dalam merencanakan, mematangkan, dan melakukan hal yang terbaik selama setahun mendatang.

Setelah memahami keutamaan bulan Muharram, semoga kita semua bisa memanfaatkan momentum yang ada di bulan Muharram ini ya, Sahabat Hikmah. Aamiin.

Gerakan Jum’at Berkah

Gerakan Jum’at Berkah

اللهم صل على سيدنا محمد، وعلى آل سيدنا محمد

#Gerakan Jumat Berkah
RAIH BERKAH DENGAN SEDEKAH

Sedekah merupakan salah satu amal ibadah yang besar pahalanya, keberadaannya bukan hanya berkaitan dengan penghambaan kepada Sang Khaliq, namun juga merupakan sikap solidaritas kepada sesama manusia.

Allah memuji orang yang bersedekah tidak hanya dalam satu ayat, namun di beberapa ayat di Al-Qur’an.

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah ayat 3).

Anjuran bersedekah di hari Jumat sebagaimana waktu-waktu utama yang lain memiliki nilai keutamaan lebih besar dari pada waktu lainnya. Hari Jumat termasuk waktu yang utama untuk bersedekah, karena Jumat merupakan hari raya orang Islam sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Penekanan bersedekah di hari Jumat dan waktu-waktu utama yang lain bukan berarti dianjurkan untuk menunda sedekah di waktu-waktu tersebut. Namun yang dimaksud adalah bersedekah di waktu-waktu tersebut memiliki pahala yang lebih besar dibandingkan waktu-waktu lainnya. Seseorang dianjurkan bersedekah kapan saja dan lebih utama lagi dilakukan di hari-hari spesial seperti Jumat.

Sudahkan Anda bersedekah Hari Ini ?
Tunggu apa lagi, mari kita perbanyak sedekah di hari jumat !!

Dengan mengikuti program #wakafasrama Baitul maal Tabungan Dhuafa At-Taqwa
mari kita sama sama mulai belajar berinvestasi dengan sedekah & infaq untuk bekal akhirat

Mari berbagi melalui nomor rekening :
BRI : 0105 01 017144 530
An : Baitul Maal Tabungan Dhuafa At Taqwa

Kami mengucapkan terima kasih dan Jazaakumullahu Khairan atas donasi dan infak yang telah diberikan oleh para Donatur/Muhsinin. Semoga dicatat sebagai amal jariyah fi sabilillah yang pahalanya terus mengalir hingga Yaumil Qiyamah.
“Barakallahu fii Maalikum Wa ahliikum”
Semoga Allah memberkahi harta dan keluarga Anda. Aamiin. 🤲

Doa Menyambut 1 Muharram

Tahun Baru Islam 2022 atau 1 Muharram jatuh pada Sabtu, 30 Juli 2022.

Menyambut datangnya Tahun Baru Islam atau 1 Muharram, ada baiknya umat muslim memanjatkan doa akhir tahun dan doa awal tahun.

Doa akhir tahun bisa dibaca setelah sholat Ashar hingga sebelum Maghrib tiba. Doa akhir tahun berisi tentang rasa syukur atas apa yang telah dicapainya selama ini. Selain itu, juga menyebutkan harapan-harapan yang akan dilakukan saat memulai penanggalan baru. Sementara doa awal tahun dapat dibaca saat detik-detik memasuki hari pertama Tahun Baru Islam.

Doa awal tahun berisi tentang harapan harapan yang akan atau ingin dicapai selama satu tahun ke depan. Selain itu, doa awal tahun juga berisi permohonan perlindungan dari Allah Subhanallahu wa ta’ala.

1. Doa akhir tahun

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Latin :

“Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm.”

Artinya: Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu. Sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Karenanya aku memohon ampun kepada-Mu. Ampunilah aku. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.

2. Doa awal tahun

Usai memanjatkan doa akhir tahun, ada juga baiknya untuk membacakan doa di awal tahun.

Berikut ini bacaan doanya :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ اَللَّهُمَّ اَنْتَ اْلاَ بَدِيُّ الْقَدِيْمُ اْلاَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ وَكَرَمِ جُوْدِكَ الْمُعَوَّلُ وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ اَقْبَلَ اَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَ
اَوْلِيَائِهِ وَالْعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ اْلاَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ وَاْلاِشْتِغَالِ بِمَا يُقَرِّبُنِى اِلَيْكَ زُلْفَى يَاذَالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ وَصَلَى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

Latin:

“Bismillaahir-rahmaanir-rahiim. Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa ‘alaa ‘aalihi wa shahbihii wa sallam. Allaahumma antal-abadiyyul-qadiimul-awwalu, wa ‘alaa fadhlikal-’azhimi wujuudikal-mu’awwali, wa haadza ‘aamun jadidun qad aqbala ilaina nas’alukal ‘ishmata fiihi minasy-syaithaani wa auliyaa’ihi wa junuudihi wal’auna ‘alaa haadzihin-nafsil-ammaarati bis-suu’i wal-isytighaala bimaa yuqarribuni ilaika zulfa yaa dzal-jalaali wal-ikram yaa arhamar-raahimin, wa sallallaahu ‘alaa sayyidina Muhammadin nabiyyil ummiyyi wa ‘alaa aalihi wa shahbihii wa sallam.”

Artinya: Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga Allah tetap melimpahkan rahmat dan salam (belas kasihan dan kesejahteraan) kepada junjungan dan penghulu kita Muhammad beserta keluarga dan sahabat Beliau. Ya Allah, Engkau Dzat Yang Kekal, yang tanpa Permulaan, Yang Awal (Pertama) dan atas kemurahan MU yang agung dan kedermawanan MU yang selalu berlebih, ini adalah tahun baru telah tiba. Kami mohon kepada MU pada tahun ini agar terhindar (terjaga) dari godaan syetan dan semua temannya serta bala tentara (pasukannya), dan (kami mohon) pertolongan dari godaan nafsu yang selalu memerintahkan (mendorong) berbuat kejahatan, Serta (kami mohon) agar kami disibukkan dengan segala yang mendekatkan diriku kepada MU dengan sedekat-dekatnya. Wahai Dzat Yang Maha Luhur lagi Mulia, wahai Dzat Yang Maha Belas Kasih.

HIKMAH DIBALIK ISRA’ MI’RAJ

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa bersejarah yang sangat agung. Sebuah perjalanan kilat lintas dimensi dalam satu malam. Saat Nabi Muhammad saw diperlihatkan hal-hal gaib, saat Nabi Muhammad saw menerima syariat shalat lima waktu dari Allah swt secara langsung, saat Nabi Muhammad saw jumpa nabi-nabi terdahulu dan menjadi imam shalat bagi mereka.

Peristiwa bersejarah ini diabadikan dalam firman Allah swt,

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra [17]: 1)

Tentu, peristiwa seagung itu memiliki banyak hikmah dan pelajaran yang bisa kita renungi dan mengambil pelajaran. Berikut adalah beberapa hikmah dan pelajaran penting di balik Isra’ Mi’raj:

  • Tingginya derajat kehambaan

Penyebutan Nabi Muhammad saw dalam ayat Isra’ (QS Al-Irsa [17]: 1) menggunakan kata ‘Abdun’ yang memiliki arti hamba, tidak menggunakan -misal kan- kata ‘nabi’, ‘rasul’ atau pun ‘khalil’ (kekasih). Ini menunjukkan bahwa derajat kehambaan di sisi Allah memiliki nilai yang sangat tinggi. Oleh karena itu, ketika Al-Qur’an berbicara tentang orang-orang ikhlas menggunakan kata ‘Abdun’. Allah berfirman,

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan [25]: 63)

Melaui Jibril, Allah pernah memberikan pilihan kepada Nabi Muhammad saw untuk memilih ingin ‘menjadi nabi sekaligus raja’, ‘atau menjadi nabi sekaligus hamba’. Kemudian Nabi lebih memilih menjadi hamba yang mengabdi kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa status kehambaan merupakan derajat paling agung di sisi Allah.

Penyebutan Nabi Muhammad saw menggunakan kata “Abdun” tidak hanya dalam surat al-Isra. Dalam beberapa ayat lain juga sama. Seperti QS Al-Baqarah [2]: 23, QS Al-Hadid [57]: 9 dan QS Al-Jin [72]: 19.

  • Pembekalan dakwah untuk Rasulullah

Kita tahu, sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah saw berdakwah di Kota Mekah. Di sana beliau merasakan betapa berat cobaan dan ujian dirasakan. Orang-orang tercinta dan orang-orang tempat beliau bersandar silih berganti wafat, saat orang-orang Quraisy tengah begitu ganas menindas. Sampai kemudian para sejarawan menamai duka Rasulullah atas kewafatan orang-orang tercinta dengan nama ‘amul huzni (tahun kesedihan). Setelah itu Allah mengisra’kan Nabi-Nya.

Ini semua sudah skenario Allah agar Nabi Muhammad menjadi sosok yang tangguh. Tantangan dakwah beliau ke depan akan sangat berat dan berliku. Menyebarkan agama Islam dengan perlawanan dari pemuka-pemuka Quraisy, dari pasukan perang bersenjata lengkap, dan musuh-musuh Islam kelas jenderal lainnya. Allah telah membekali Nabi Muhammad saw sejak ia lahir dengan kehidupan pedih yang mengasah ketangguhannya.

Bahkan kita tahu, setelah Isra’ Mi’raj, tepatnya setelah hijrah ke Madinah, hambatan dakwah Rasulullah saw lebih berat. Peristiwa perang badar, perang uhud, perang mu’tah, dan perang-perang lainnya adalah fakta sejarah bahwa perjuangan dakwah Nabi periode Madinah penuh tantangan dan berliku.

  • Sampaikan kebenaran walau pahit

Sepulang Nabi Muhammad saw dari Isra’ Mi’raj, beliau sampaikan perjalanannya itu pada sekalian penduduk Mekah. Tapi apa respons mereka? Banyak diantara mereka tidak percaya.

Bahkan ada yang semula beriman, tapi setelah mendengar ‘cerita tidak masuk akal’ ini, mereka keluar dari Islam. Sampai Nabi saw harus menceritakan bukti-bukti untuk memperkuat argumennya; seperti soal bangunan masjid Aqsha dan kafilah dagang yang beliau lihat saat Isra.

Nabi tetap menyampaikan kabar peristiwa Isra’ Mi’raj yang dialaminya dengan terus terang. Meski harus dibalas dengan cacian dan ejekan dari orang-orang musyrik. Bukankah beliau pernah bersabda, “Katakanlah kebenaran, walau pahit kenyataan.”

  • Syariat Nabi Muhammad saw menghapus syariat nabi-nabi terdahulu

Saat peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasulullah saw menjadi imam shalat bagi nabi-nabi terdahulu. Ini bukti bahwa mereka tunduk dan mengikuti risalah Nabi Muhammad saw. Sekaligus menjadi isyarat bahwa syariat Nabi Muhammad saw telah menghapus syariat nabi-nabi sebelumnya.

  • Keistimewaan masjid al-Aqsha bagi umat Muslim

Sebelum peristiwa Isra Mi’raj, masjid al-Aqsha dinamakan Baitul Maqdis. Perjalanan Isra dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis dan Mi’raj dari Baitul Maqdis menuju langit dunia sampai bertemu Rabb-nya, merupakan isyarat bahwa Masjid al-Aqsha memiliki keistimewaan bagi umat Islam.   Bahkan masjid ini pernah menjadi kiblat shalat sebelum akhirnya berganti Ka’bah. Pahala shalat Baitul Maqdis (Masjid al-Aqsha) juga 500 kali lipat dibanding masjid biasa.

  • Islam adalah agama yang suci Saat Nabi Muhammad diberi pilihan antara air susu dan khamr,

Nabi memilih susu. Kemudian Malaikat Jibril berkata, “Engkau telah diberi hadiah kesucian.” Ini sebagai isyarat bahwa Islam adalah agama suci (fitrah). Allah berfirman dalam Al-Qur’an,

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)

  • Pentingnya persoalan shalat

Peristiwa Isra’ Mi’raj juga menjadi hari ulang tahun bagi shalat lima waktu. Dalam hadits Nabi dijelaskan bahwa kewajiban shalat bagi umat Muslim terjadi pada malam Nabi Muhammad saw Mi’raj ke langit. Hanya syariat shalat yang beliau terima langsung, bukan dengan wahyu melalui perantara malaikat Jibril sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya. Tidak heran, dalam agama Islam, shalat merupakan tiang agama (Imad ad-Din).

  • ‘Ilmul yaqin Nabi saw naik level ke ‘ainul yaqin

Sebelum Mi’raj, Rasulullah saw hanya mendengar sifat-sifat soal surga, neraka dan hal-hal gaib lainnya melalui wahyu. Ini namanya ‘ilmul yaqin; Nabi mengimaninya tapi belum melihat langsung. Ketika Mi’raj, Rasulullah saw meliat langsung dengan mata kepala beliau sendiri. Ini namanya ‘ainul yaqin.

 

Sumber : Tabungan Dhuafa At-taqwa

 

KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASUL

KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASUL

Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail telah mengajarkan sebentuk ketaatan yang final. Ketaatan yang tak ringan. Logika manusia tentu akan menolak kondisi semacam itu. Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar di tengah padang pasir, tanyanya, “Apakah ini perintah Allah?” Ibrahim mengangguk. Landasan iman dan kejernihan hati seketika membuat Hajar mengerti dan menaati. Pun, ketika Ibrahim menuturkan mimpi untuk menyembelih Ismail. “Apakah ini perintah Allah?” Ibrahim mengangguk. Keimanan yang diwariskan kedua orang tuanya seketika membuat Ismail mengerti dan menaati.

Ketaatan seorang hamba pada Rabb-Nya diwujudkan dalam takwa. Patuh melaksanakan segala perintah-Nya, dan meninggalkan segenap larangan-Nya. Bagi kaum Muslim, ketaatan kepada Allah ini juga harus disertai ketaatan kepada Rasulullah. Allah berfirman, “Siapa menaati Allah dan Rasul, maka akan bersama orang-orang yang Allah anugerahi nikmat kepada mereka, yaitu para nabi, orang-orang lurus, syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”(QS an-Nisa’ [4]:69)

Ketaatan hanya akan terlaksana apabila seorang hamba memiliki keimanan. Allah dan Rasul-Nya tidak pernah memerintahkan keburukan bagi umat manusia. Apa yang tampak ganjil, apa yang tampak mustahil, apa yang tampak salah, hakikatnya tidak selalu demikian. Tugas seorang hamba adalah taat. Taat pada apa yang Maha Cinta inginkan dengan segala kemahatahuan-Nya. Biarkan syukur dan sabar memperindah ketaatan kita.

Bahaya Fitnah

BAHAYA FITNAH

Fitnah memang sangat berbahaya, bahkan dianggap lebih kejam daripada pembunuhan. Bahaya fitnah, saking berbahayanya, seseorang bisa menghilangkan nyawa kerabatnya, menghapus kehormatan bahkan bisa membuat seseorang hidup tersiksa.

Maka dari itu, orang yang melakukan fitnah tak akan mendapatkan kebahagiaannya di dunia. Kalau pun dia bahagia, itu karena melihat orang lain menderita akibat ulahnya.

Dan itu tidak akan bertahan lama. Ada saatnya ia pun akan mengalami rasa sakit melebihi sakitnya orang yang difitnah.

Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik,” (QS. An-Nuur: 4).

Dalam ayat tersebut dijelaskan tentang hukuman bagi pemfitnah. Jika ada seseorang yang menuduh seorang muslim berzina, namun tak dapat membuktikannya dengan mengemukakan empat orang saksi yang juga melihat kejahatan tersebut pada saat dan tempat yang sama, maka hukuman bagi orang yang menuduh (pemfitnah) tersebut adalah 80 kali cambukan. Lebih dari itu, pemfitnah tersebut dianggap fasik.

Hal tersebut berarti orang yang memfitnah sesama Muslim, maka kesaksiannya tidak akan diterima sampai kapanpun.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak masuk surga orang yang suka menyebarkan fitnah,” (HR. Bukhari dan Muslim).

LETIH DAN KEBAIKAN

LETIH DAN KEBAIKAN

“JIKALAU kita letih karena kebaikan, maka sesungguhnya keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Namun jikalau kita bersenang-senang dengan dosa, maka sesungguhnya kesenangan itu akan hilang dan dosa itu akan kekal.” (Umar bin Khattab).

 Lelah saat berbuat kebaikan itu manusiawi. Siapapun terkadang merasakannya. Bahkan beberapa diantaranya ada yang menangis karena lelah yang amat sangat. Kebaikan memang terkadang membuat lelah sementara perbuatan buruk terkadang menyenangkan. Tetaplah pilih yang membuat lelah karena dampaknya kekal dan berdampak panjang.

Kita juga perlu waspada karena terkadang dosa itu datang dengan penampakkan yang menyenangkan dan terkesan membuat kita bahagia. Namun akhirnya, penyesalan berkepanjanganlah balasan yang kita terima. Nikmati saat lelah datang ketika kita berbuat kebaikan

Kebaikan kadang memang membuat kita lelah, namun ketika lelah itu menghampiri segeralah ingat bahwa ada pahala yang akan kekal abadi. Maka teruslah berbagi tanpa tapi dan berbuat baik tiada henti. Selagi masih muda, selagi nyawa masih di raga, maka jangan pernah berhenti menebar kebaikan di mana pun berada.

Raulullah SAW pernah bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.”  (HR. at-Tirmidzi)

GERHANA DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

Sebagian orang menganggap terjadinya gerhana matahari dan bulan sebagai gejala alam biasa, sebagai peristiwa ilmiah yang bisa dinalar. Gerhana sekedar menjadi tontonan menarik yang bisa disaksikan beramai-ramai bersama keluarga dan handai tolan. Namun bagi yang merasa tunduk kepada keagungan Sang Perncipta, Allah Swt., gerhana adalah peristiwa penting yang secara gamblang menunjukkan bahwa ada kekuatan Yang Maha Agung di luar batas kemampuan manusia; Mereka yang merasa rendah di hadapan Sang Pencipta akan menadahkan muka, menghadap Allah. Allah Swt. berfirman:

“Dan dari sebagian tanda-tanda-Nya adalah adanya malam dan siang serta adanya matahari dan bulan. Janganla kamu sujud kepada matahari atau bulan tetapi sujudlah kepada Allah Yang Menciptakan keduanya (QS. Fushshilat: 37)”.

Terkait dengan peristiwa gerhana, agama Islam mensyari’atkan beberapa hal:

  1. Perbanyaklah do’a, zikir, istighfar, takbir, salat gerhana dan sedekah. Dari ‘Aisyah, Nabi saw bersabda:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah (HR. Bukhari Muslim)”.

  1. Menyeru jama’ah untuk melaksanakan salat gerhana dengan panggilan al-ṣalātu jāmi’ah dan tidak ada adzan maupun iqamah. Hadis ’Aisyah mengatakan:

“Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ash-ṣalātu jami’ah (mari kita lakukan salat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.” (HR. Muslim)”

Mengenai hukum salat gerhana, para ulama membedakan antara shalat gerhana matahari dan salat gerhana bulan. Pada salat gerhana matahari Jumhur Ulama (Shāfi’iyyah dan Mālikiyah) mengatakan bahwa shalat gerhana matahari hukumnya sunnah muakkadah, kecuali Ḥanafiyyah yang mengatakan hukumnya wajib. Sedangkan dalam shalat gerhana bulan, para ulama terpecah menjadi tiga macam, Ḥanafiyyah memandang bahwa shalat gerhana bulan hukumnya hasanah. Malikiyah berpendapat mandubah. Shāfi’iyyah dan Ḥanābilah berpendapat sunnah muakkadah.

  1. Mengerjakan salat gerhana secara berjama’ah di masjid

Salah satu dalil yang menunjukkan hal ini sebagaimana dalam hadis dari ‘Āishah bahwasanya Nabi saw mengendari kendaraan di pagi hari lalu terjadilah gerhana. Lalu Nabi Saw. melewati kamar istrinya (yang dekat dengan masjid), lalu beliau berdiri dan menunaikan salat. Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Nabi mendatangi tempat salatnya (yaitu masjidnya) yang biasa dia salat di situ. Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi adalah mengerjakan salat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu salat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” Wanita diperbolehkan shalat gerhana bersama kaum pria di masjid, Namun, jika ditakutkan keluarnya wanita tersebut akan membawa fitnah (menggoda kaum pria), maka sebaiknya mereka shalat sendiri di rumah.

  1. Berkhutbah setelah salat gerhana berdasarkan tuntunan Rasulullah.

Setelah selesai salat gerhana, Rasulullah berkhotbah di hadapan orang banyak, ia memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah.”